Pelajaran Penting dari Kisah Nabi Hud ‘Alaihissalam
Sebagaimana juga dalam kisah
Nabi Nuh ‘alaihissalam, di dalam kisah ini terdapat beberapa
pelajaran yang sama pada semua rasul, antara lain:
1. Allah Ta’ala dengan
hikmah-Nya mengisahkan tentang berita umat-umat yang bertetangga dengan kita di
Jazirah Arab dan sekitarnya. Al-Qur’an telah menyebutkan metode paling tinggi
dalam memberikan pelajaran atau peringatan. Allah Ta’ala juga
telah menerangkan berbagai pelajaran dengan keterangan yang sebenar-benarnya.
Tentunya tidak diragukan lagi bahwa di daerah-daerah lain yang lebih jauh dari
kita, di timur ataupun di barat, telah Allah Ta’ala utus
seorang rasul kepada mereka.
Begitu pula telah dipaparkan
bagaimana sambutan, penolakan, atau pemuliaan serta akibat yang mereka terima.
Tidak ada satu umat pun melainkan telah Allah Ta’ala utus
kepada mereka seorang rasul.
2.
Sangat bermanfaat bagi kita untuk mengingat kondisi daerah di sekitar kita
serta apa yang kita terima dari generasi ke generasi. Juga apa yang dapat
disaksikan dari peninggalan mereka kapan pun kita melewati bekas pemukiman
mereka. Kita pun dapat memahami bahasa dan tabiat mereka lebih dekat,
membandingkan dengan tabiat kita. Tentu saja manfaat ini sangat besar dan lebih
pantas kita ingat daripada memaparkan keadaan umat yang belum pernah kita
dengar tentang mereka, yang tidak kita kenal bahasa mereka, dan tidak sampai
kepada kita keadaan mereka seperti yang Allah Ta’ala ceritakan kepada
kita.
Dari sini dapat disimpulkan
bahwa mengingatkan orang dengan sesuatu yang lebih dekat dengan pemahaman
mereka, lebih sesuai dengan keadaan mereka serta lebih mudah mereka dapatkan,
akan lebih bermanfaat bagi mereka dibandingkan yang lain. Tentunya lebih pantas
untuk disebutkan dengan cara yang lain meskipun juga mengandung kebenaran.
Namun kebenaran itu bertingkat-tingkat. Seorang pengajar atau pendidik, bila
dia menempuh cara ini, dan berupaya keras menyebarkan ilmu serta kebaikan
kepada manusia dengan jalan-jalan yang mereka kenal, tidak membuat umat lari
dari dakwah. Atau dengan suatu metode yang lebih tepat untuk menegakkan hujjah terhadap
mereka, niscaya akan bermanfaat.
Allah Ta’ala telah
mengisyaratkan hal ini pada bagian akhir kisah bangsa ‘Aad. Firman Allah Ta’ala,
“Dan sesungguhnya Kami
telah membinasakan negeri-negeri di sekitar kalian, dan Kami telah mendatangkan
tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang.” (al-Ahqaf: 27)
Yakni
telah Kami sebutkan berbagai macam ayat atau tanda kekuasaan Kami,
“Supaya mereka kembali
(bertaubat).” (al-Ahqaf: 28)
Yaitu
agar lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran.
3. Menjadikan
bangunan-bangunan yang besar dan megah sebagai suatu kebanggaan, kesombongan,
dan perhiasan serta menindas hamba-hamba Allah Ta’ala dengan
sewenang-wenang adalah perbuatan yang sangat tercela dan merupakan warisan
generasi yang melampaui batas. Sebagaimana diterangkan Allah Ta’ala dalam
kisah bangsa ‘Aad yang diingkari oleh Nabi Hud ‘alaihissalam,
“Apakah kalian mendirikan
bangunan pada tiap-tiap tanah yang tinggi untuk bermain-main?”
(asy-Syu’ara: 128)
Secara umum bangunan untuk
istana, benteng, rumah, dan bangunan lainnya; mungkin saja dijadikan tempat
tinggal karena memang dibutuhkan. Kebutuhan itu sendiri beraneka ragam dan
berbeda-beda tingkatnya. Semua ini adalah perkara mubah (dibolehkan) dan justru
menjadi wasilah (sarana) kepada kebaikan apabila disertai dengan niat yang
lurus.
Atau dapat pula dijadikan
sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh dan menjaga keamanan suatu
daerah, atau manfaat lain bagi kaum muslimin. Ini juga termasuk rangkaian jihad
di jalan AllahTa’ala, berkaitan dengan perintah harus berhati-hati
terhadap musuh.
Namun, bisa saja itu semua
dimanfaatkan demi kesombongan dan kekejaman terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala,
atau pemborosan harta yang sebenarnya dapat digunakan di jalan yang bermanfaat.
Ini tentu saja merupakan hal yang sangat dicela oleh Allah Ta’ala pada
bangsa ‘Aad atau yang lainnya.
4.
Pelajaran yang lain bahwa akal pikiran ataupun kecerdasan dan yang mendukung
semua itu serta hasil atau pengaruh yang ditimbulkan, betapa pun besar dan
luasnya, tetap tidak akan bermanfaat bagi pemiliknya kecuali bila ia imbangi
dengan keimanan kepada Allah Ta’ala dan para rasul-Nya.
Sedangkan orang yang
menentang ayat-ayat Allah Ta’ala, mendustakan para rasul
Allah Ta’ala, walaupun mendapatkan kesempatan atau diberi tangguh
untuk menikmati kehidupan dunia, kesudahan yang akan dia hadapi nanti sangatlah
buruk. Pendengaran, penglihatan, dan akalnya tidak akan dapat membelanya
sedikit pun jika datang keputusan Allah Ta’ala. Sebagaimana yang
Allah Ta’ala sebutkan dalam kisah ‘Aad,
“Dan sesungguhnya Kami
telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah
meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami memberikan kepada mereka
pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati
mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu
selalu mereka perolok-olokkan.” (al-Ahqaf: 26)
Dalam ayat lain,
“Karena itu, tidaklah
bermanfaat sedikit pun kepada mereka sesembahan yang mereka seru selain Allah,
di waktu azab Rabbmu datang. Dan sesembahan itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali kebinasaan belaka.” (Hud: 101)
Wallahu a’lam.
No comments:
Post a Comment